Permulaan kebaikan dipandang ringan, tetapi akhirnya dipandang berat. Hampir-hampir saja pada permulaannya dianggap sekedar menuruti khayalan, bukan pikiran; tetapi pada akhirnya dianggap sebagai buah pikiran, bukan khayalan. Oleh karena itu, dikatakan bahwa memelihara pekerjaan lebih berat dari pada memulainya. Mohon do'akan kami semoga selalu istiqomah dalam kebaikan Perajurit Saba

Senin, 06 Februari 2017

Ketika Fajar Tiba

Langit dini hari selalu memikat. Bintang yang berkilauan nampak seumpama mata ribuan malaikat yang mengintip penduduk bumi. Bulan terasa begitu anggun menciptakan kedamaian dalam hati. Ia tak bisa melewatkan pesona ayat-ayat ke-Maha Kuasaan Allah begitu saja. Jam 3 pagi menikmati keindahan surgawi. Keindahan pesona langit, bintang gemintang dan bulan yang sedemikian fitri. ''Diatas sana ada jutaan malaikat sedang berdzikir''.

''Tidaklah suatu kaum duduk berdzikir kepada Allah kecuali  para malaikat mengelilingi mereka, rahmat menaungi mereka, ketentraman turun kepada mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka kepada para malaikat disisi-Nya''.
Jutaan malaikat itu mendo'akan penduduk bumi yang tidak lalai, penduduk bumi yang mau tahajjud saat jutaan manusia terlelap dibuai siratu tidur''.  Dan tatkala fajar merekah kemerahan disebelah timur, hamba Allah masih saja berdzikir dan mengajaknya menikmati keindahan yang menggetarkan itu. Adzan subuh selalu menggetarkan kalbunya. alam seperti bersahut-sahutan mengagungkan asma Allah. Fajar yang merekah selalu mengalirkan kedalam hatinya rasa takjub luar biasa kepada Dzat yang menciptakannya. setiap kali fajar itu merekah, selalu ada semburat yang baru. Ada keindahan baru, keindahan yang berbeda dari fajar hari-hari yang telah lalu. Rasanya tak ada sastrawan yang mampu mendetailkan keindahan panorama itu dengan bahasa pena. Tak ada pelukis yang mampu melukiskan keindahan itu dalam kanfasnya. Tak ada!! keindahan itu bisa dirasakan, dinikmati dan dihayati.

Langit dini hari selalu memikat kalbu dan fajar yang merekah selalu mengalirkan kedalam hatinya rasa takjub luar biasa kepada Dzat yang menciptakannya. Hamba Allah masih tetap terduduk diatas sajadahnya. Ia buka jendela kamarnya lebar-lebar. Ia memandangi langit, menikmati fajar dan menghayati dzikir bersama hembusan angin alam yang membawanya ketempat yang terindah.

''Wahai Robb, terimakasih atas segala nikmat-Mu''

Minggu, 05 Februari 2017

Abu Yazid Al-busthomi dan seekor anjing

       Siapa yang tidak kenal Abu Yazid Al-busthomi? Seorang wali Allah yang mempunyai derajat yang tinggi disisi-Nya, termasuk pemimpin kaum sufi yang memiliki banyak karomah. Namun siapa sangka beliau pernah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seekor kambing?

       Seperti biasanya, Abu Yazid senang berjalan sendiri di malam hari sembari mentadaburi ayat-ayat Allah yang Allah sisipkan dibalik setiap ciptaan-Nya. lalu ia melihat seekor anjing berjalan ke-arahnya. si anjing hanya cuwek saja dan tidak menghiraukan sang syeikh. namun  ketika sudah dekat, Abu Yazid mengangkat gamisnya karena khawatir terkena anjing yang najis itu.
Spontan anjing itu berhenti dan memandangi sang syeikh. Entah bagaimana, Abu Yazid seperti mendengar anjing itu berbicara padanya.
''Tubuhku kering, tidak akan menyebabkan najis padamu. Kalaupun engkau merasa terkena najis, engkau tinggal membasuhnya dengan air 7x dan tanah, maka najis di gamismu itu akan hilang. Namun jika engkau mengangkat gamismu karena menganggap engkau yang berbaju badan manusia lebih mulia, dan menanggap diriku yang berbadan anjing ini najis dan hina, maka najis y
ang menempel di hatimu itu tidak akan bersih walau kau basuh dengan 7 samudra''. Abu Yazid tersentak dan meminta maaf pada anjing itu. Lalu sebagai permintaan maaf-nya, ia mengajak anjing itu untuk bersahabat dan berjalan bersama. Tapi si anjing itu menolaknya ''Engkau tidak pantas berjalan denganku, mereka yang menghormatimu akan mencemoohmu dan melempariku dengan batu. Aku tidak tahu mengapa mereka menganggapku begitu hina, padahal aku berserah diri pada Sang Pencipta wujud ini. Lihatlah aku juga tidak membawa dan menyimpan sepotong tulang-pun, sedangkan engkau masih menyimpan sekarung gAndum dirumahmu''

       Lalu anjing itu berjalan meninggalkan Abu Yazid yang masih terdiam, ''duh Gusti, untuk berjalan dengan seekor anjing ciptaan-Mu saja aku tidak pantas, bagaimana aku merasa pantas berjalan dengan-Mu? ampuni aku dan sucikanlah hatiku dari najis''.


 Sejak itu Abu Yazid memuliakan dan mengasihi semua makhluk tanpa syarat

*****************************

''Janganlah menganggap dirimu lebih suci dari yang lain, sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang paling suci diantara hamba-hamba-Nya''

''MAKA BENARLAH AKU ADALAH PENDOSA''

Jumat, 28 Oktober 2016

inilah buah bacaanku

Apa yang terbayang dibenak anda seandainya ada seorang raja mengirmkan surat kepada salah seorang rakyat atau pengikutnya, kemudian disampaikan bahwa suratnya sudah diterima dan dibaca dengan suara yang indah: Bismillahirrahmaanirrahiim, dari Raja Agung Fulan kepada Fulan bin Fulan. aku minta anda datang ketempatku esok hari. namun, selesai dibaca surat itu ia tinggalkan begitu saja. pada hari kedua ia ambil surat itu dan ia baca kembali isinya. sementar itu sang Raja bertanya-tanya tentang si fulan yang ia undang untuk datang itu.

''Surat anda sudah sampai ketangannya, Tuan. dia juga sudah memegang dan memperhatikannya''. kata sang pengantar surat. ''ya, tapi dimana dia? bukankah dalam surat itu aku memintanya untuk datang kepadaku?''. kata sang Raja. ''ia sangat menghormati surat tuan, memeganginya, dan membacanya dengan suara yang santun nan indah, yang isinya: wahai fulan, aku memintamu untuk datang esok hari, atau lusa jika esok tidak bisa'', kata sang pengantar surat. Raja berkata '' baik, tetapi dimana dia?'' ''dia sudah membaca surat tuan, apakah itu belum cukup? dia benar-benar sudah membacanya, Tuan!''. kata sang pengantar surat.

Coba anda bayangkan, apakah yang dilakukan fulan itu sudah memuaskan sang Raja? bukankah Al qur'an yang Allah turunkan kepada nabi Muhammad bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dipahami dan direnungkan isinya, serta dijadikan media untuk menghadap kepada Allah?

Anda membaca ayat ''bergegaslah menjemput ampunan dari Tuhanmu'' (Q.S. Alu Imron: 133) sang Maha Raja mengirimkan surat kepada anda yang berisi perintah: bergegaslah kepada-Ku menjemput ampunan-Ku, ''wahai segenap manusia kalian benar-benar membutuhkan Allah, maka segeralah kembali kepada Allah'' (Q.S. Fathir: 15). disini, kita mendapat bahwasannya sang Maha Raja mengatakan kepada kita dalam surat-Nya,  ''cepatlah kembali kepadaku, langkahkan kaki kalian dan menghadaplah kepadaku.'' anda membaca surat itu dengan suara merdu, tetapi kemudian anda letakkan surat itu diatas rak, dan anda tidak menghadap kepada-Nya. apa artinya ini? artinya anda tidak menerima surat itu secara baik dan tidak memahami maksudnya!.

Pada masanya, Hasan Al bashri pernah mencela sebagian orang yang membaca Al qur'an, ''celakalah kalian, Al qur'an yang Allah turunkan agar kalian membaca dan mengamalkannya, namun kalian hanya sekedar membacanya saja.''

Maka dari itu, ketika aku membaca Al qur'an, aku sebenarnya sedang membaca undangan Allah, dan aku harus menghadiri-Nya. membaca Al qur'an pada hakikatnya membuahkan kesadaran bahwa aku tegah menghadap kepada Allah. inilah sebagian tujuan membaca Al qur'an. tetapi, sampai kapankah surat ini dapat aku perhatikan dan aku pahami sepenuh hati?

Cobalah anda renungkan makna-makna spiritual ini pada malam-malam anda, sehingga anda dapat memetik hasilnya. jika perenungan anda kemudian anda sertai dengan memperhatikan ilhwal dan perjalanan hidup para Shiddiqin menuju Allah, niscaya dihati anda akan tumbuh dorongan dan semangat untuk menghadap Allah.

Cobalah anda perhatikan benar-benar perihal neraka dan keadaan orang-orang yang dilemparkan kesana -semoga Allah melindungi kita darinya- bagaimana keadaan mereka pada malam pertama tinggal disana, dengan pintu terkunci semua, dan mereka berada didalamnya? sebagai perumpamaan, andai kata suatu pengajian diadakan ditengah terik matahari, adakah diantara kita yang dapat duduk dengan tenang? cobalah bagaimana halnya jika di pinggir tungku? bagaimana halnya jika di neraka jahanam?

Bahkan, seandainya di neraka jahanam itu tidak ada siksaan dan tidak ada pembakaran, namun hanya ada seperti yang Allah firmankan ''tinggallah dengan hina didalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku'' (Q.S. Al mu'minun :108), niscaya hal itu sudah lebih dari cukup membuat penghuninya menderita dan merasakan kepedihan yang sangat hebat, bagi orang-orang yang memahami. saya berani bersumpah Demi Allah, andaikata di neraka jahanam terdapat kebun-kebun, tersedia berbagai makanan dan minuman serta istana yang megah, tetapi kepada para penghuninya Allah katakan ''tinggallah dengan hina didalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku,'' dapat dipastikan hal itu sudah cukup menyiksa dan pedih tidak terkira rasanya. saya dan kalian mau- tidak mau pasti akan lewat diatas neraka ini. jika tidak lolos ke surga, negeri abadi yang diliputi ridha Allah, maka kita akan jatuh kedasar neraka ini. mudah-mudahan kita dilindungi Allah darinya.

Sekarang, coba renungkan suasana ketika Allah menyambut para kekasih-Nya disurga. renungkanlah saat DIA menampakkan diri-Nya kepada mereka dan bertanya, ''maukah kalian aku beri lagi? aku anugerahi lagi? aku tambahi lagi?'' mereka menjawab, ''tentu wahai Tuhan kami, apa lagi gerangan yang akan Engkau berikan? apa lagi gerangan yang ingin engkau tambahkan? bukankah kami telah Engkau anugerahi surga, tempat kami bebas tinggal sesuka hati kami?'' Allah lantas berfirman, ''Aku telah menghlalkan ridha-Ku kepada kalian, maka Aku takkan memarahi kalian selamanya.'' (H.R. Bukhori) dan ''Aku perkenankan kalian menatap wajah-Ku yang mulia''. seandainya di surga tidak ada apapun kecuali firman Allah tersebut, itu sudah lebih dari cukup. sebab, itulah hal paling mulia di surga. andaikata surga sebuah lembah yang luas, tanpa ada kenikmatan apapun disitu selain firman Allah diatas, niscaya hal itu sudah cukup bagi mereka yang mempunyai cita rasa dan pemahaman serta hati yang mantap serta terbebas dari berbagai penyakit. itu sudah cukup membuat mereka terbang menuju Allah. disitulah mereka mendapatkan sesuatu yang tidak pernah terlihat mata, terdengar telinga, dan terlintas dihati mereka.

Jika makna-makna spiritual ini direnungkan oleh orang yang hatinya tulus, maka hal ini akan menjadi jalan bagi mereka menuju Allah, yang pada gilirannya akan menumbuhkan semangat untuk mendekat kepada-Nya.

Dalam konteks lingkungan sosial, apabila seseorang hendak mengundang kehadiran orang lain yang memiliki hubungan kekerabtan, pernikahan, bisnis atau yang lainnya, biasanya ia mengirimkan surat undangan. adapun surat undangan untuk menghadiri area kedekatan, ma'rifat, dan keridhoan Allah adalah dorongan yang ia tancapkan kehati anda. jika suatu saat nanti dihati anda terlintas perasaan seperti itu, dan begitu kuat menguasai hati anda, maka katakanah oleh anda: aku harus menghadap kepada Allah dan tidak boleh aku sia-siakan waktuku ini. siapa tahu malam ini aku mati, sementara aku belum sampai pada titik terdalam makna berhubungan dengan Allah.

Kamis, 27 Oktober 2016

Baik Karena Teman Baik

Bisa jadi terlintas dalam benak seorang mukmin -meskipun hanya sekilas- sepercik kesadaran ; "bagaimana bisa aku terpuruk dalam kubangan aib tanpa pernah kusadari? kenapa aku belum juga beranjak menuju Allah? waktuku hilang, umurku melayang, tetapi tidak sejengkal pun aku bertambah dekat kepada Allah. tidak pula bertambah pengetahuanku tentang-Nya. semua berlalu sia-sia".

Sayangnya, sepercik kesadaran ini segera dihadang nafsu jahat. dengan dibantu setan, nafsu ini mencoba mengendurkan semangat orang mukmin tadi, melancarkan bujuk rayu dan godaannya; engkau masih lebih baik dibandingkan dengan yang lain, bersyukurlah! lihatlah keadaan manusia pada zaman edan ini. engkau sudah mengerjakan sholat, berhaji, berumrah, bersedekah, berzikir kepada Allah, dan bersholawat kepada Nabi. cobalah perhatikan orang itu; ia jauh dari Allah. dibandingkan dengan dirimu, ia tidak ada apa-apanya. engkau masih lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya.

Rayuan maut dari kolaborasi antara nafsu dan setan tadi menghadang manusia untuk menghancurkan dan menjauhkannya dari momen-monen ketika ia sebetulnya telah berada dalam cahaya Allah untuk mencela hawa nafsu tersebut.

tiada yang mencela dirinya
sehebat orang merdeka yang luhur dan mulia
dan orang menjadi baik
tergantung dengan siapa ia duduk

Setiap kali momen untuk menelisik diri sendiri mendatangi seorang mukmin, saat itu pula lah nafsu jahat datang menutupi aib itu rapat-rapat. memang benar bahwa ada banyak orang yang lebih buruk daripada anda, tetapi apakah anda diciptakan untuk memandang orang yang lebih buruk itu? berapa kali anda melihat orang menaiki mobil lebih bagus daripada mobil anda, lalu anda berharap mempunyai mobil yang sama? bukankah sering sekali anda menyaksikan seseorang mengenakan busana lebih mahal dibanding busana yang anda kenakan, lalu anda berharap memilikinya juga? bukankah sering pula anda mendengar seseorang mendapat limpahan harta dunia, lalu anda berharap mendapatkan hal serupa?

Kenapa anda tidak bersyukur? bukankah sebagian orang kelaparan? sementara anda kekenyangan? bukankah sebagian orang tidak memiliki pakaian atau kendaraan, sedangkan anda memilikinya? mengapa dalam urusan dunia anda melihat keatas, sementara dalam urusan akhirat anda memandang kebawah? tahukah anda apa penyebabnya? itulah nafsu yang tidak anda bersihkan dan tidak anda didik. dialah musuh terbesar anda yang menghambat perjalanan anda menuju Allah. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. sesungguhnya Tuhanku maha pengampun lagi maha penyayang (Q.S. Yusuf: 53)

Jumat, 09 Oktober 2015

IKHLAS ITU , , ,

Ikhlas itu,,, ketika nasehat, kritik dan bahkan fitnah, tidak mengendorkan amalmu dan tidak membuat semangatmu punah.

Ikhlas itu,,, ketika hasil tak sebanding usaha dan harapan, tidak membuatmu menyesali amal dan tenggelam dalam kesedihan.

Ikhlas itu,,, ketika amal tidak bersambut apresiasi, tak membuatmu urung bertanding.

Ikhlas itu,,, ketika niat baik disambut berbagai prasangka, kamu tetap berjalan tanpa berpaling muka.

Ikhlas itu,,, ketika sepi atau ramai, sedikit atau banyak, menang atau kalah, kau tetap pada jalan yang lurus dan terus melangkah.

Ikhlas itu,,, ketika kau lebih mempertanyakan apa amalmu dibanding apa posisimu, apa peranmu dibanding apa kedudukanmu, apa tugasmu dibanding apa jabatanmu.

Ikhlas itu,,, ketika ketersinggungan pribadi tidak membuatmu keluar dari barisan dan merusak tatanan.

Ikhlas itu,,, ketika posisimu diatas, tak membuatmu jumawa. ketika posisimu dibawah tak membuatmu ogah bekerja.

Ikhlas itu,,, ketika khilaf mendorongmu untuk minta maaf, ketika salah mendorongmu untuk berbenah, ketika ketinggalan mendorongmu untuk menambah kecepatan.

Ikhlas itu,,, ketika kebodohan orang lain terhadapmu, tidak kau balas dengan kebodohanmu terhadapnya. ketika kezalimannya terhadapmu tidak kau balas dengan kezlimanmu terhadapnya.

Ikhlas itu,,, ketika kau hadapi wajah marah dengan senyum ramah, kau hadapi kata kasar dengan jiwa besar, ketika kau hadapi dusta dengan menjelaskan fakta.

Ikhlas itu,,, gampang diucapkan,, sulit diterapkan,, namun tidak mustahil diusahakan.

Setiap Yang Baru Bid'ah, Setiap Yang Bid'ah Sesat


       Diskusi tentang bid'ah bertitik tolak dari sebuah hadits Nabi : ''setiap yang baru adalah bid'ah, setiap bid'ah itu sesat, setiap yang sesat dineraka'' (HR. Muslim). setiap bid'ah itu sesat. titik. tidak ada bid'ah yang baik. bukankah sang Rasul mengatakan ''setiap''.

       Tetapi, tahukah anda bahwa kata ''setiap'' memiliki arti berbeda menurut ahli bahasa dan ushul fiqh?.  jangan coba-coba memaknai sebuah teks tanpa merujuk pada pendapat para ulama jika tidak mau umat ini tertimpa bencana besar. tidak sedikit orang yang dengan dalih mengikuti Nabi dan menjauhkan diri dari bid'ah malah terjebak oleh hal-hal yang sifatnya permukaan, tidak mampu menangkap isi sebuah pesan. sepanjang bulan dan tahun ia sibuk mengurusi orang lain. menuduh keluarga fulan ahlu bidah, keluarga fulan berbuat syirik, keluarga fulan begini, keluarga fulan begitu, kelompok ini kerjanya begini, kelompok itu kerjanya begitu. tidak pernah terlintas sejenakpun untuk merenungkan aib dirinya sendiri dihadapan Allah. selama ini, sudahkah ia bersimpuh seraya menghinakan dirinya dihadapan-Nya? sudah mampukah ia mengendalikan hawa nafsu dalam beriteraksi dengan sesama? ia malah tidak henti-hentinya mengurusi orang lain, seolah-olah dirinya hakim kepercayaan Tuhan yang diberi tugas memutuskan seluruh persoalan manusia.

       Mestinya, ia menengok kebelakang, menyimak apa yang dikatakan Al bukhori tentang hadits bid'ah tersebut. dalam kitab  fathul baari karya imam ibn hajar al asqalani, syarah terbesar dari kitab hadits shahih bukhari karya imam al bukhori ditegaskan bahwa dalam hal bid'ah berlaku lima hukum. jadi, ada bid'ah wajib, bid'ah sunah, bid'ah makruh dan bid'ah haram.

       Bid'ah wajib, misalnya, menulis buku atau literatur untuk membantah mereka yang menyerang islam dan menyesatkan kaum muslimin. termasuk bid'ah wajib, yang dilakukan sahabat abu bakar, yaitu menghimpun Al qur'an kedalam satu mushaf. sebelum melakukan itu, ia bermusyawarah dengan sahabat Umar. usai bermusyawarah ia memanggil Zaid ibn Tsabit ''kami bermaksud menghimpun Al qur'an dalam satu mushaf'' kata Abu bakar. ''tetapi ini tidak dilakukan Rasulullah. ini bid'ah'' tanggap Zaid. ''benar, tetapi ini baik. para penghafal Al qur'an banyak yang gugur dalam pertempuran menumpas kaum murtad. kami mencemaskan Al qur'an, meskipun Allah menjamin akan menjaganya''. jelas Abu bakar.

       Ini berarti bahwa berbuat sesuatu yang tidak dikerjakan Rasulullah, namun disukai Allah, layak dilaksanakan. alasannya bukan semata-mata hal itu dilakukan oleh Abu bakar yang merupakan khalifah sehingga berhak menetapkan suatu sunah, melainkan juga karena sebab yang melatar belakanginya, yaitu adanya nilai kebaikan. ketika Zaid keberatan karena kodifikasi Al qur'an tidak dilakukan Rasulullah, Abu bakar beralasan, ''tetapi, ini baik''. cobalah anda renungkan, disitu ada nilai kebaikan yang dinyatakan secara tersurat dalam dalil syari'at yang sifatnya khusus, dan secara tersirat masuk dalam semangat dalil syari'at yang sifatnya umum.

       Jika ada buku yang isinya memojokkan Rasulullah, dan buku itu berpengaruh luas, maka kita wajib menulis buku sanggahan, meskipun hal ini tidak terjadi pada masa Rasulullah. walaupun waktu itu belum ada penulisan buku, tetapi sekarang menjadi wajib.

       Bid'ah sunah, misalnya mendirikan sekolah, khusus menghafal Al qur'an. apakah Rasulullah mendirikan sekolah seperti ini? apakah beliau mendirikan perguruan tinggi untuk mengajarkan syari'at islam? tidak, beliau tidak melakukan itu. apakah beliau mengumpulkan orang-orang? tidak, beliau hanya mengumpulkan sahabat. apakah tokoh-tokoh islam pada abad-abad pertama islam mengumpulkan orang-orang untuk mengerjakan shalat terawih bersama, dan membaca Al qur'an dalam shalat terawih itu satu juz setiap malam hingga khatam pada terawih akhir ramadhan? bahkan, setelah mengumpulkan orang-orang dan mengerjakan terawih berjamaah sebanyak dua puluh raka'at, Umar berkata, ''ini adalah bid'ah yang baik''. Umar tidak menghatamkan Al qur'an dalam terawih itu, tidak juga membatasi khatam pada malam 29 atau 27 ramadhan. semua ini tidak terjadi baik pada masa sahabat maupun masa tabi'in. ini bid'ah, tapi bid'ah yang sunah.

       Menurut imam syafi'i, bid'ah yang terpuji adalah yang merujuk pada salah satu sumber agama. ini syarat pertama. kita harus mengacu pada sumber syari'at. syarat kedua, tidak menyalahi salah satu hukum Allah.

       Ada bid'ah yang diharamkan. inilah bid'ah yang dilarang Rasulullah, yang menyalahi syari'at beliau dan tidak memiliki sumber dalam agama. beliau bersabda, ''ada dua kelompok penghuni neraka yang tidak akan aku lihat mereka''. karena mereka melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah. ''kelompok pertama, laki-laki yang memukul orang lain dengan cambuk mirip ekor sapi. kelompok kedua, perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan dengan gaya erotis dan sensual, serta memikat kaum lelaki dengan memperlihatkan tubuh, perhiasan, atau kecantikannya. mereka ini takkan masuk surga, bahkan takkan mencium aromanya. padahal, aroma surga dapat dicium dari jarak sekian dan sekian.(hadits ini banyak versinya).

       Itulah bid'ah yang dilarang Rasulullah. sebab, agama telah menetapkan dengan tegas bahwa wanita wajib menutup aurat mereka yang membuka aurat jelas menyalahi ketetapan ini. atas dasar inilah imam ibn hajar, sebagaimana halnya imam al nawawi dalam syarh shahih muslim-nya membagi bid'ah kedalam kategori hukum yang lima tersebut.

       Ringkasnya, ada bid'ah secara bahasa, ada juga bid'ah secara syari'at. secara bahasa, bid'ah artinya hal apa saja yang baru, tanpa ada batasan. ''setiap yang baru adalah bid'ah''. ini secara bahasa, dan disinilah berlaku hukum yang lima itu. ada bid'ah yang secara syari'at tidak memiliki sumber dalam agama. ''siapa saja yang berbuat bid'ah menyangkut hal-hal yang tidak termasuk urusan kami, maka itu ditolak''.

       Menurut ulama ushul, dibalik teks tersurat (manthuk al nash) terdapat pemahaman tersirat (mafhum al nash). ''siapa saja berbuat bid'ah menyangkut hal-hal yang tidak termasuk urusan kami, maka itu ditolak'', adalah arti tersurat, sedangkan arti tersiratnya, ''siapa saja berbuat bid'ah menyangkut sesuatu yang termasuk urusan kami, maka itu tidak ditolak''.

       Oleh karena itu, ketika menjelaskan hadits ini didalam syarh shahih muslim-nya, imam al nawawi - dan para ulama salaf pada umumnya - mengatakan bahwa untuk memahami hadits ini kita harus merujuk pada makna kata ''setiap''. secara bahasa kata ''setiap'' bermakna universal. tetapi dalam syari'at terkadang bermakna partikular, seperti dalam ayat ...ada seorang raja yang merampas setiap bahtera (Q.S Al kahfi. 79). kenyataannya, tidak setiap bahtera diambil raja. karena itu, khidir merusak sebagian kapal yang ia tumpangi agar terlihat buruk, sehingga raja tidak tertarik untuk merampasnya.

     


Seandainya kata ''setiap'' pada hadits tersebut kita pahami sebagai makna universal maka kita telah banyak sekali melakukan bid'ah, baik dalam soal agama maupun urusan dunia. sebab, kata ''setiap''  jika dipahami secara umum maka segala hal tercakup didalamnya. karenanya, kata ''setiap'' dalam hadits soal bid'ah itu dipahami partikular, bukan universal. maka arti bid'ah dalam hadits ''setiap yang baru adalah bid'ah, setiap bid'ah itu sesat, setiap yang sesat dineraka'' adalah bid'ah dalam hal yang buruk, yang melanggar prinsip dasar syari'at.

Rabu, 07 Oktober 2015

AKU TIDAK DICIPTAKAN UNTUK HIDUP SIA-SIA



       Tahun demi tahun terus berlalu, tetapi aku merasa sama sekali belum memahami ayat-ayat Al qur'an. belum satupun ayat merasuk kejiwaku. hari demi hari juga terus berganti. satu malam aku tangisi dosa, tapi sepuluh malam aku lupa. satu kali aku bertobat, namun berkali-kali aku rusak dengan maksiat. lidah, mata dan telingaku lepas tidak terkontrol. begitu pula dengan kaki dan tanganku. waktuku lepas begitu saja tanpa ada gunanya. siang dan malam datang silih berganti mengurungku dalam kedunguan. aku sama sekali tidak memanfaatkannya untuk memahami ilmu yang sebetulnya bisa menyampaikanku pada Sang Khaliq. ketika aku menginginkan sesuatu, hawa nafsulah yang memandu dan menguasaiku. aku mencela sesuatu, kulakukan berdasarkan hawa nafsu. hawa nafsu membuatku sibuk menelisik 'aib orang lain tanpa memperhatikan 'aibku sendiri. hawa nafsu membuatku berbangga diri dan membesar-besarkan urusan dunia dengan segala rona-ronanya, padahal semua itu sebenarnya anugerah Allah semata. nafsu membuatku sibuk mencari kedudukan disisi manusia. aku dicintai, tetapi juga dibenci. aku diperbincangkan dan disanjung-sanjung, namun juga dicemooh dan dilecehkan.

       Demikianlah yang terjadi pada diriku. begitulah nilai diriku. benarkah untuk semua ini aku diciptakan? apakah untuk tujuan ini Allah menundukkan alam semesta untukku?

       Tidak demikian! aku diciptakan bukan untuk hidup layaknya orang sekarang. aku memilik tujuan hidup yang jelas, menyangkut diri, keluarga dan umat ini. aku melihat, hari demi hari umat semakin terpuruk dalam kealpaan, satu sama lain saling bermusuhan, dan mereka telah berpaling dari Allah. sepertinya, tidak sedikitpun waktuku digunakan untuk mengangkat martabat umat ini. aku telah bersikap masa bodoh terhadap keadaan mereka. pura-pura tidak tahu bahwa darah mereka tumpah tanpa ada yang membela. mereka tercabik-cabik dalam konflik. tidak sedikit diantara mereka yang menghadap kepada Allah dengan cara yang justru membawa 'aib bagi mereka sendiri, menghadap kepada Nabi dengan cara yang justru membuat Beliau terluka. lalu, apa tugasku ditengah situasi buruk seperti ini? apakah aku akan hidup seperti ini terus? layaknya hewan ternak yang tidak memberiku nilai sama sekali? tanpa kerinduan kepada Allah? dan tanpa jerih payah untuk mendapatkan karunia-Nya? apakah aku takkan melangkah untuk membersihkan hati dan menjernihkan jiwa?  apakah aku akan membiarkan diriku dijemput ajal dalam keadaan seperti ini? dengan 'aib semacam ini? Dan, 'aib terbesar dari semua 'aib yang ada pada diriku adalah ketidak tahuanku terhadap 'aib ini.