Tuhan,,
Siapalah aku yang teramat kerdil dalam jagat kuasa_Mu
Tak pernah menjadi apa-apa
Pun tak memiliki apa-apa
Hanya, biarkan aku menjadi Aurora
Yang melesat dengan kokoh keangkasa
Meskipun separuh sayap terluka
Menuju tiang langit_Mu
Tanpa harus terkesiap dan terlena
Oleh ranum senja dan kerlip alpha centura
Tuangkan dalam cangkir jiwaku
Sebening cinta untuk mereka yang dicampakkan,
Disingkirkan, dipinggirkan
Karena AKU, DIA, MEREKA, KAMI
Sama dihadapan_Mu
Kau titahkan yang terbaik
Bukan ditentukan dari kelihaian berkata-kata
Karena kata-kata telah lama menghipnotis kami
Hingga kami terpanggang dalam kawah ketidak tahuan
Kebodohan
Menjelmakan kami sebagai
Ifrit-ifrit milenium
Sekumpulan manusia hipokrit tak tahu malu
Pun bukan pula ditentukan seberapa elok wajah
Dan bentuk tubuh kami
Karena itu semua semata-mata tak dapat kami elak
Engkau telah menentukan tanpa dapat kami memilih
Sebagimana kemuliaan juga tidak dapat diwariskan
Melalui darah, keturunan
Karena itu pun
Telah Engkau tentukan, tanpa dapat kami meminta
Kemuliaan dan penghargaan sejati itu pun
Tak terukur oleh limpahan harta
Karena acapkali semua itu membuat kami mendewakan dunia
Membutakan jiwa, melumpuhkan logika
Sebab,
Tangis bayi yang kelaparan,
Jerit ibu-ibu hamil yang tak punya sepeserpun uang,
Bapak-bapak yang kehilangan pekerjaan,
Serta para manula yang penyakitan
Tak sanggup mendobrak benteng keangkuhan dalam jiwa kami
Kami menjadi yang terbaik dan mulia karena
Dan hanya karena derajat ketaqwaan kami kepada_Mu
Maka kuatkanlah kami untuk meneguhkan hati
Untuk senantiasa bersujud kepada_Mu
Memancarkan nur cinta_Mu
Dialtar jiwa mereka yang terluka
Hingga kami mengerti,
Betapa penghormatan
Dan setitik keangkuhan
Tak layak kami sandang
Duh Gusti,
Singkirkan arakan awan keangkuhan dalam jiwa kami
Agar kami kembali kepada_Mu
Dengan menenteng ranumnya amal dan pengabdian
Aku milik_Mu Tuhan
Aku bukan siapa-siapa
Aku tak punya apa-apa
(dari novel ning aisya)
- Salam
- Tarim
- Dzikir dan Do'a
- Ulumul Qur'an
- Ulumul Hadits
- Kisah
- Kajian
- Biografi
- Mutiara Hikmah
- Artikel
- Puisi
- Video
- Fathib In Memories Part 1
- Fathib In Memories Part 2
- Fathib In Memories Part 3
- Fathib In Memories Part 4
- Fathib In Memories Part 5
- Fathib In Memories Part 6
- Fathib In Memories Part 7
- Fathib In Memories Part 8
- Fathib In Memories Part 9
- Fathib In Memories Part 10
- Fathib In Memories Part 11
- Fathib In Memories Part 12
- Fathib In Memories Part 13
- Fathib In Memories Part 14
- Fathib In Memories Part 15
- Wisata
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 September 2015
Untuk Sahabat
Sahabat,
Pertemuan kita tak pernah terlintas dipikiran
Semua yang terjadi seperti suatu kebetulan
Ku bagai menemukan tempat kediaman
Dimana ku dapat suatu perlindungan
Selama ini ku selalu dirundung kesedihan
Tiada sapa tau hatiku yang sering mengalir tangisan
Wajah yang selalu menunjukkan keriangan
Namun hati yang tau hanya kau.. Teman,,
Andaikan ku temui insan yang dapat
Membahagiakan dan menghilangkan
Segala kepiluanku
Sahabat,.,
4 tahun kita bersama
4 tahun kita bersahabat
4 tahun kita berbagi
Teringat akan masa lalu yang ku lalui bersama kalian
Semua terasa begitu indah
Saat kita saling menatap
Saat kita saling tertawa
Pun saat kita saling bertengkar
Semua terasa begitu cepat
Sahabat,.,
Meski timur menghadap utara
Meski bumipun terbelah dua
Sampai bintang runtuh dari angkasa
Kau dan aku selamanya bersahabat
Sikap rendah hati, uluran persahabatan,
Gurat keluguan, pancaran kecerdasan, raung keberanian,
Sahabat,.,
Aku merindukan itu dari kalian
Hai sahabat,.,
Ku gali matamu
Ku temui bintang jatuh
Ku jumpai nautika biru membentang
Ku jumpai telaga biru beriak pelan
Kini semua telah menghilang
Dan menjadi sebuah kenangan
Terimakasih sudah bersedia menjadi sahabatku
Dan maafkan atas pertemanan yang jelek
Sahabat,.,
Mungkinkah kau mau mengulang kembali
Kenangan itu bersamaku lagi?
Sahabat,.,
Andai kita tak lagi berjuang bersama-sama
Kita masih tetap bisa sama-sama berjuang
Sahabat,.,
Jika hari esok bukan lagi milik kita
Tolong, maafkan saya ya,,!
Pertemuan kita tak pernah terlintas dipikiran
Semua yang terjadi seperti suatu kebetulan
Ku bagai menemukan tempat kediaman
Dimana ku dapat suatu perlindungan
Selama ini ku selalu dirundung kesedihan
Tiada sapa tau hatiku yang sering mengalir tangisan
Wajah yang selalu menunjukkan keriangan
Namun hati yang tau hanya kau.. Teman,,
Andaikan ku temui insan yang dapat
Membahagiakan dan menghilangkan
Segala kepiluanku
Sahabat,.,
4 tahun kita bersama
4 tahun kita bersahabat
4 tahun kita berbagi
Teringat akan masa lalu yang ku lalui bersama kalian
Semua terasa begitu indah
Saat kita saling menatap
Saat kita saling tertawa
Pun saat kita saling bertengkar
Semua terasa begitu cepat
Sahabat,.,
Meski timur menghadap utara
Meski bumipun terbelah dua
Sampai bintang runtuh dari angkasa
Kau dan aku selamanya bersahabat
Sikap rendah hati, uluran persahabatan,
Gurat keluguan, pancaran kecerdasan, raung keberanian,
Sahabat,.,
Aku merindukan itu dari kalian
Hai sahabat,.,
Ku gali matamu
Ku temui bintang jatuh
Ku jumpai nautika biru membentang
Ku jumpai telaga biru beriak pelan
Kini semua telah menghilang
Dan menjadi sebuah kenangan
Terimakasih sudah bersedia menjadi sahabatku
Dan maafkan atas pertemanan yang jelek
Sahabat,.,
Mungkinkah kau mau mengulang kembali
Kenangan itu bersamaku lagi?
Sahabat,.,
Andai kita tak lagi berjuang bersama-sama
Kita masih tetap bisa sama-sama berjuang
Sahabat,.,
Jika hari esok bukan lagi milik kita
Tolong, maafkan saya ya,,!
Minggu, 22 Maret 2015
Tuhan, kuatkan aku
Kubiarkan air mata ini terus mengalir
Mengarungi samudera tangis, menyelami haru birunya kehidupan
Yang hendak sampai pada puncaknya
Ketika nikmat cinta-Nya akan kureguk
Air mata ikhlas, air mata syukur
Gambaran betapa nikmatnya terbebani
Saat kalian menghadiahiku dengan tanggung jawab
Ketika kalian menusukku dengan cara terindah
Tetesnya mengiringi kesucian niatku
Untuk tak lagi membuatnya berkata
...........................................................
Walau sakit itu masih dan tetap kurasa
Sorot mata kalian yang seolah menelanjangi
Seakan aku ini telah menjadi narapidana
Yang telah melakukan kesalahan tak terampuni
Jauh terasing dalam titik gelap
Sementara dia tak pernah bertanya
Untuk apa berbuat dosa, jika akhirnya masuk neraka
Tak pula seorang mendekati
Menghibur, mengobati lara dihati
Kucoba mengeraskan hati, menguatkan fikirku
Untuk tetap hormat, patuh
Walaupun kutahu
Semua takkan seperti dulu
Teriring do'a selalu kupanjatkan
Semoga ketulusan perhatianmu kan terbalas
Yang Maha Tahu telah menyusun semua
Keyakinan hati mungkin semua untuk yang terbaik
Namun bolehkah ku memohon satu hal darimu
Untuk tidak lagi mengulanginya kepada orang lain
Karena air mata itu takkan kering hanya karena terik matahari
Takkan surut seiring waktu berlalu
Kesabaran yang berdasar kesadaran
Menjadi tiang kokoh kekuatan iman
Ketulusan hati yang berdiri tegak
Menyempurnakan bagunan cinta kasih-Nya
Tuhan, kuyakin kuasa-Mu melebihi segalanya
Beri aku keikhlasan menghadapi dan melupakan semua
Semoga Kau selalu memberi kesabaran
Seperti yang telah Kau beri padanya
Untuk tetap tersenyum ketika derita menyapa
Untuk tetap ramah ketika amarah datang
Untuk tetap tabah ketika cobaan menerjang
Untuk tetap kokoh ketika guntur fitnah menyambar
Agar selalu bertahan ketika badai cinta-Mu menerpa
Agar tetap menebar senyum termanis saat kenyataan pahit datang menyapa
Agar tetap berlapang dada ketika masalah menjadi suatu penghalang
Agar tetap ikhlash ketika berjuta caci mengoyak hati
Tetap bijak menyikapi berjuta masalah
Tetap kuat disaat tak ada lagi yang mendampingi
Untuk tetap terseok ketika kaki tak mampu lagi tertatih
Utuk tetap menerima dan menjaga hati
Berikan kami kekuatan agar bisa menerobos semua
Menyatukan cita asa, mencapai harapan dan cita-cita
Karena jalan terjal telah kita lalui
Curamnya tebing sudah kita daki
Tuhan, ku takkan berhenti memohon
Seumpama badai kembali menerjang, gelap kembali menyelimuti
Kau kan segera mengutus secercah cahaya
Agar harapan tak pernah sia-sia
Mengarungi samudera tangis, menyelami haru birunya kehidupan
Yang hendak sampai pada puncaknya
Ketika nikmat cinta-Nya akan kureguk
Air mata ikhlas, air mata syukur
Gambaran betapa nikmatnya terbebani
Saat kalian menghadiahiku dengan tanggung jawab
Ketika kalian menusukku dengan cara terindah
Tetesnya mengiringi kesucian niatku
Untuk tak lagi membuatnya berkata
...........................................................
Walau sakit itu masih dan tetap kurasa
Sorot mata kalian yang seolah menelanjangi
Seakan aku ini telah menjadi narapidana
Yang telah melakukan kesalahan tak terampuni
Jauh terasing dalam titik gelap
Sementara dia tak pernah bertanya
Untuk apa berbuat dosa, jika akhirnya masuk neraka
Tak pula seorang mendekati
Menghibur, mengobati lara dihati
Kucoba mengeraskan hati, menguatkan fikirku
Untuk tetap hormat, patuh
Walaupun kutahu
Semua takkan seperti dulu
Teriring do'a selalu kupanjatkan
Semoga ketulusan perhatianmu kan terbalas
Yang Maha Tahu telah menyusun semua
Keyakinan hati mungkin semua untuk yang terbaik
Namun bolehkah ku memohon satu hal darimu
Untuk tidak lagi mengulanginya kepada orang lain
Karena air mata itu takkan kering hanya karena terik matahari
Takkan surut seiring waktu berlalu
Kesabaran yang berdasar kesadaran
Menjadi tiang kokoh kekuatan iman
Ketulusan hati yang berdiri tegak
Menyempurnakan bagunan cinta kasih-Nya
Tuhan, kuyakin kuasa-Mu melebihi segalanya
Beri aku keikhlasan menghadapi dan melupakan semua
Semoga Kau selalu memberi kesabaran
Seperti yang telah Kau beri padanya
Untuk tetap tersenyum ketika derita menyapa
Untuk tetap ramah ketika amarah datang
Untuk tetap tabah ketika cobaan menerjang
Untuk tetap kokoh ketika guntur fitnah menyambar
Agar selalu bertahan ketika badai cinta-Mu menerpa
Agar tetap menebar senyum termanis saat kenyataan pahit datang menyapa
Agar tetap berlapang dada ketika masalah menjadi suatu penghalang
Agar tetap ikhlash ketika berjuta caci mengoyak hati
Tetap bijak menyikapi berjuta masalah
Tetap kuat disaat tak ada lagi yang mendampingi
Untuk tetap terseok ketika kaki tak mampu lagi tertatih
Utuk tetap menerima dan menjaga hati
Berikan kami kekuatan agar bisa menerobos semua
Menyatukan cita asa, mencapai harapan dan cita-cita
Karena jalan terjal telah kita lalui
Curamnya tebing sudah kita daki
Tuhan, ku takkan berhenti memohon
Seumpama badai kembali menerjang, gelap kembali menyelimuti
Kau kan segera mengutus secercah cahaya
Agar harapan tak pernah sia-sia
Langganan:
Postingan (Atom)
